Hosting Gratis

Best In Me (Cardcaptor Sakura)



Best In  Me ~ Blue
CardCaptor Sakura ~ CLAMP

Cerita ini adalah karanganku, kalo ada yang sama dengan karangan ini, mungkin dia menyalurkan idenya lebih dulu dibandingkan aku..
Tapi aku jamin, ide ini hanya dari lagu dan karanganku sendiri..
ini songfic + fanfic ketiga, jadi rada aneh.. maaf ya.. 
.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.
Chapter 1

Namaku Li Syaoran. Aku orang hongkong, tapi semenjak kelas 5 SD aku pindah ke jepang. Sekarang aku sudah kelas 2 SMP. Aku mempunyai 2 sahabat, Erioldan Tomoyo.
‘hari ini cerah.. sepertinya enak bila aku bersepeda.. lagi pula ini hari minggu, masih jam 6.30 juga’ kataku dalam hati. Aku mengeluarkan sepeda dari dalam garasi.
From the moment I meet you I just knew you be mine
You touched my hand and I knew that this was gonna be our time
I don’t ever wanna lose this feeling
I don’t wanna spent a moment a part
^di jalanan^
“bersepeda di pagi hari memang enak, udaranya masih segarrr..” aku berbicari sendiri sambil mengendarai sepedaku. Sambil bersepeda aku juga melihat kanan-kiriku. Walaupun tidak fokus dan cuma sekilas, aku melihat perempuan dengan wajah yang sangaattttt manis.
‘dia siapa ya.. manis sekali, coba aku bisa mengenalnya’ batinku. Gadis itu mungkin seumuran denganku, memiliki rambut yang pendek sebahu berwarna coklat muda, mata hijau emerald, dan memakai sepatu roda. Walaupun tidak terlihat begitu lancar, tapi dia seperti pernah menguasainya.
Tiba-tiba dia terjatuh. Aku langsung turun dari sepedaku dan mendekatinya. Aku mengulurkan tanganku. Kepalanya langsung mendangak ke atas, mungkin untuk melihat siapa yang ingin menolongnya. Mata emeraldnya bertemu dengan mata amberku. Kami terpadu dalam posisi ini beberapa saat. “heii.. bisakah kamu menolongku???” tanyanya memecahkan keheningan. “ohh, iya. Aku kesisi memang untuk itu..” aku mengulurkan tanganku lagi, dia langsung menyambut tanganku. Aku membantunya berdiri. “terimakasih, maaf merepotkann..” katanya sambil tersenyum. “ah, sama-sama.. lagipula, aku merasa tidak direpotkan kok..” aku pun ikut tersenyum.
“oh iya, kamu tidak papa kan??” lanjutku. “tidak kok, aku kan sudah pakai pelindung.. hehehe” dia tertawa kecil. “siapa namamu” tambahnya. “aku syaoran.. kalau kamu??”. “aku sakura..”dia tersenyum tipis. “ohh, sakura, nama yang indahh..” kataku sambil tersenyum tipis. “terima kasih syaoran” dia tersenyum juga, tapi tidak menatapku, mukanya juga merah.
“kenapa kau bisa jatuh???” tanyaku tiba-tiba. “sebenarnya, dulu aku sangat jago bermain sepatu roda. Bahkan kalo ke sekolah pakai spatu roda. Tapi semenjak kls 5 SD, aku pindah ke Australia. Disana aku tak pernah memakai sepatu roda lagi. Kemarin aku sampai di jepang, rencananya aku mau jalan-jalan menggunakan sepatu roda, tapi malah terjatuh seperti ini.. hehehe” dia menjelaskan secara rinci. “hmm, kalau aku. Semenjak kls 5 SD pindah kesini. Aku berasal dari hongkong. Sakura, maaf aku harus pulang, aku janji pada ibuku anakn membuatkan sarapan” kataku. “baiklah, sampai ketemu lagi syaoran” dia tersenyum lalu pergi.

#SKIP# pagi-pagi

“Huaaa, sudah jam seginii.. aku bisa terlambat” teriakku saat bangun. “aku buru-buru bersiap-siap, makan, lalu berangkat sekolah.

^disekolah^
“tumben kau datang terlambat, syaoran. Kau kan murid paling rajin” ucap orang yang duduk di samping ku. Aku duduk paling belakang, sampingku eriol. Dan didepan eriol tomoyo. “memangnya aku tidak boleh terlambat, eriol” ucapku ketus. “hehehehe, iya-iya” dia tertawa kecil. Bel sekolah berbunyi, anak-anak langsung duduk di tempatnya masing-masing. Guruku masuk kelas. “anak-anak, hari ini kita akan kedatangan murid baru. Ayo nak, kesini. Sekarang perkenalkan dirimu”.
“namaku kinomoto sakura, kalian bisa memanggilku sakura. Aku pindahan dari autrali. Karna pekerjaan ayahku, aku bisa kembali ke jepang. Mohon bantuannya.” Ucapnya sambil tersenyum. “nah sakura, kamu duduk di depan li ya. Samping tomoyo.” bu guru menunjukku dan tomoyo. “ah, iya bu..”. dia berjalan ke sini. Dia duduk di depanku.
“hai sakura, aku daidouji tomoyo, kamu bisa memanggiku tomoyo. Senang bisa bertemu denganmu” tomoyo menyapanya. “ah, iya tomoyo, senang bertemu denganmu juga”. Dia membalik tubuhnya, sekarang ia menghadap ke belakang. “hai syaoran, senang bisa bertemu denganmu lagi..” dia tersenyum kearahnya. “ah, aku juga senang bisa bertemu denganmu” mukaku memerah.
“kinomoto, kau kenal dengannya??”Tanya eriol kaget. “panggil aku sakura saja. Hmm.. iya, memang ada apa??” Tanya bingung. “aku hanya tidak yakin, syaoran bisa kenal perembuan secantikmu..” ucapnya polos. “E-R-I-O-L” kata tomoyo dengan nada kesal. “eh, iya maafkan aku tomoyo. Aku tidak bermaksud apa-apa kokk..” kata eriol. Tomoyo ngambek, jadi eriol membujuknya. Saat yang sama sakura bertanya padaku. “syaoran, tomoyo pacarnya eriol ya?”. “iya” jawabku santai. “sejak kapan?” dia bertanya lagi. Aku berpikir sejenak “hmm, sejak kami kelas 1 SMP”. ”Ohh, begitu..”. aku mengangguk..

#SKIP# pulang sekolah

Begitu pulang aku langsung menghempaskan tubuhku ke kasur. Aku masih memikirkan sakura. Sekian lama aku memikirkannya, aku pun tertidur. Tok Tok Tok pintu kamarku di ketuk.aku langsung terbangun. “syaoran, apa kau didalam. Ayo keluar, makan malam sudah siap..” kata ibuku. “iya bu.. aku akan ke bawah..”

#SKIP# selesai makan

Aku berjalan kearah tangga, aku ingin kekamar.
“syaoran, bisa bicara sebentar” kata ibuku secara tiba-tiba.
Aku langsung berjalan kearah ruang tamu..
”ada apa bu?” ucapku bingung.
Aku duduk di samping ibu.
“sebenarnya, kamu sudah punya tunangan. Dia anak teman ibu. Dia akan datang besok sore. Jadi jangan kemana-sana setelah pulang..”
“baik bu..” jawabku lemas..
Aku langsung berlari ke kamarku.. ‘kenapa harus dijodohkan sih, aku kan tidak kenal. Lagipula, aku suka dengan sakura..’ batinku, aku kesal.
Aku langsung menidurkan diriku. Dan akupun tertidur..


.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.
kira-kira siapa ya orang yang dimaksud oleh ibu syaoran..
apa syaoran kenal orang itu??

nantikan chap 2 nya ya..
tp entah kpn dibuat..
terlalu banyak tugas sekolah..
maklum udh kelas 9 sihh.. heheh

menerima kritik dan saran..
makasih udh mau baca fanfic aneh buatanku ini..
byeee..
see you in next chapp..

The Same Feeling Chapter 1

The Same Feeling


Summary: Malaikat itu berbeda dengan iblis. Malaikat berasal dari Surga, sedangkan iblis berasal dari Neraka. Dunia mereka dipisahkan oleh dunia manusia yang disebut bumi. Sakura Kinomoto, malaikat yang turun ke bumi untuk menggagalkan rencana jahat iblis pada manusia. Syaoran Li, iblis yang naik ke bumi dan memiliki tugas kebalikannya. Mereka berdua dipertemukan di kelas yang sama dan perlahan muncul perasaan yang sama walaupun mereka tak mengetahui wajud mereka masing-masing.
Disclaimer: CardCaptor Sakura milik CLAMP-sensei^^
Genre: Romance & Fantasy
Pairing: Sakura Kinomoto & Syaoran Li
Konnichiwa minna-san! Hajimemashite watashi wa KIDA! Kida masih baru disini d(^,^)b Mohon untuk author-author senior yang membacafanfict karya Kida ini memberikan komentarnya ya! Komentar pedas atau manis Kida terima^^ Pertama kali Kida nonton anime ini langsung tertarik dengan pairing SyaoSaku!
Lucu ya kalau Syaoran lagi blushing! Apa lagi Kida pernah liat fotonya Syaoran yang 'Blushing with a Pot' Kida langsung ketawa Xd Tapi si Syaoran kalau di Tsubasa Chronicle keren juga ya! Kida belum sempat nonton animenya saat mereka remaja.. Sayang sekali ya TAT
Yah~ Dari pada lama-lama mendengar kisah hidup Kida dengan anime karya CLAMP-sensei, mending turun aja langsung! \(^o^)/
-HAPPY READING-
.
.
.
.
.
.
.
.
Oh ya, CLAMP-sensei hebat ya^^
#GUBRAK
Author: Ngapain kau muncul lagi!?
SURGA
"Sakura…" Sakura dipanggil oleh penguasa surga dan langsung menghadap.
"Ada apa Rajaku?." Tanya Sakura.
"Ada yang ingin kusampaikan kepadamu!." Ucap Raja tersebut dan bangkit dari singasananya. "Turunlah ke bumi dan gagalkanlah rencana jahat penguasa neraka untuk membuat manusia bumi menderita." Ucap-Nya panjang lebar dan diberikan anggukan oleh Sakura.
NERAKA
"Syaoran, laksanakanlah tugas yang telah kuberikan padamu. Naiklah ke bumi sekarang!." Perintah Raja neraka dan mendapat anggukan dari Syaoran.
"Baik Rajaku, akan saya laksanakan perintah anda sekarang!." Ucap Sakura dan Syaoran bersamaan.
~ The Same Feeling ~
::
::
::
::
V
Akhirnya mereka pun sampai di bumi, tentunya dengan posisi yang berbeda loh~ Raja dari 2 dunia berbeda tersebut telah menyiapkan tempat tinggal mereka masing-masing. Sakura telah tiba di tempat tinggalnya. "Kinomoto? Jadi itu nama keluargaku sekarang? Loh~ Pakaianku berubah menjadi seragam! Sepertinya Raja telah menyiapkan segalanya!." Seru Sakura panjang lebar, Sakura pun masuk kedalam rumah tersebut.
"Tadaima~~."
Sedangkan tempat yang telah disiapkan oleh Raja Neraka, sampailah Syaoran di sana. "Syaoran Li! Bagus juga, tadaima~." Seru Syaoran dan di sambut oleh pelayan keluarga Li. "Selamat datang di rumah tuan muda Li." Ucap pelayan yang dikenal dengan nama Wei tersebut dan membawakan tas Syaoran.
'Hm~ Raja memang hebat! Mempersiapkan segalanya dengan lengkap... Seragamnya lumayan juga!.' Batin Syaoran dan masuk kedalam rumahnya yang baru.
Kediaman Kinomoto
Karena tak ada yang menyahut sapaannya, Sakura pun langsung masuk kedalam dan terlihat di rumah tidak ada siapa-siapa. Sakura memasuki dapur dan terdapat papan yang bertuliskan
Fujitaka Kinomoto
Work
Toya Kinomoto
Work
Sakura Kinomoto
Membuat Makan Malam
Sakura mendekati papan tersebut "Fujitaka? Toya? Apa mereka sekarang keluarga baruku? Lalu... Tugasku membuat makan malam? Baiklah-" Seru Sakura lalu menuju kamarnya.
Walalu baru pertama kali Sakura melangkah di rumah itu, tapi entah mengapa langkah kaki Sakura mengenal jalan menuju kamarnya. Akhirnya Sakura sampai di kamarnya, Sakura masuk dan melihat banyak boneka plush toy. Sakura langsung berbaring di ranjang "Hah~ Besok mulai sekolah ya!." Seru Sakura pelan dan langsung tertidur.
Kediama Li
Syaoran berbaring di ranjangnya "Hah~ Pasti besok di sekolah bakal seru" Ucap Syaoran lalu tersenyum.
"Tuan muda Li waktunya nada untuk makan malam!" Seru Wei dari balik pintu.
"Iya Wei-san, saya akan segera turun!" Ucap Syaoran bangkit dari ranjangnya dan melihat ke arah jendela "Menyenangkan!." Serunya dan keluar dari kamar tersebut.
Kriit... #Bunti pintu di tutup
Kembali lagi pada kediaman Kinomoto, terlihat Sakura yang tengah menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Pertama ditatanya meja lalu piring dan yang lainnya untuk 3 orang. Sakura mendadar telur dan membuat ikan goreng yang akan dimakan oleh keluarganya.
Setelah selesai, tak lama kemudian terdengar deritan pintu. "Sepertinya mereka sudah pulang!." Sakura langsung beranjak dan berlari menuju ke pintu. Terlihat seorang laki ber-jas berambut sama seperti Sakura dan mengenakan kacamata masuk ke rumah. Disusul oleh lelaki berseragam SMU berambut hitam, mereka sama-sama mengucapkan "Tadaima~"
"Konbawa~ Otou-san, Onii-chan, Aku sudah menyiapkan makan malam~!." Ucap Sakura tersenyum pada mereka.
"Sakura, konbawa~." Seru Fujikata yang merupakan ayah dalam keluarga Kinomoto tersebut.
"Oh~ Jadi MONSTER bisa membuat makanan juga ya~!." Goda Toya, yang berperan sebagai kakak Sakura.
MONSTER?!
Sakura menggepalkan tangannya "Jangan panggil aku monster Onii-chan!." Sakura bersiap menginjak kaki Toya tetapi berhasil dihindari oleh Toya, dan berakhirlah dengan kaki Sakura yang sakit.
"Sudah~ Sudah! Kalian jangan berkelahi di depan pintu. Sebaiknya kita makan makan malamnya dulu, nanti keburu dingin!". Ucap Fujitaka melerai mereka berdua.
'= =" Kakakku yang baru pasti akan meledekku monster terus deh! Sabar. Sabar!' Batin Sakura mengelus dadanya.
Akhirnya mereka makan malam bersama, tak terjadi keributan di antara Sakura dan Toya. Setelah selesai makan Sakura kembali ke kamarnya, berbaring lalu mengambil boneka plush toy dan dimainkannya. Ditarik-tarik dan dicubit-cubit "Auh..."
"Eh?." Sakura bingung, ada suara orang yang kesakitan, tapi siapa? Tanya Sakura dalam hatinya. Sakura tak memperdulikan itu dan memainkannya lagi, di tarik-tarik dan dicubit-cubit juga.
"Sakit bodoh!."
"Eh? Ada lagi suaranya." Ucap Sakura. "Tapi tak perduli ah~." Lalu Sakura melempar boneka plush toy kuning itu ke sebarangan tempat dan menutup matanya.
Ada sesuatu yang bergerak!
Bergerak mendekati Sakura dan...
#BRUKK
"Uuiii.. Apa yang memukul kepalaku?." Sakura menengok ke samping dan melihat boneka kuning bersayap itu bergerak.
"UUUIIIII!?." Sakura teriak sekencang-kencangnya sampai menggemparkan seluruh isi rumah.
"Ada apa Sakura?." Tanya Toya yang tiba-tiba datang.
Sakura yang sudah terkaget-kaget di bagian ujung tembok menunjuk pada boneka yang bergerak sendiri itu. "Ta.. Tadi boneka itu bergerak!." Seru Sakura gemetaran. Toya mendekati boneka itu dan memperhatikan dengan seksama.
"Tak ada apa-apa, sudah sana tidur lagi!." Perintah Toya dan keluar dari kamar Sakura. Sakura bangkit dan mendekati boneka itu sekali lagi, memperhatikannya dengan seksama dan...
"APAA?."
Sakura langsung mundur ke belakang, menjauh dari boneka yang kerasukan roh tersebut dan bersiap mengambil bangku belajarnya dan akan melemparkannya pada boneka itu. "Tenang Sakura." Ucap boneka itu.
Sakura sudah merasa tenang "Dari mana kau tau namaku?." Tanya Sakura dan mendekat pada boneka tersebut.
"Lupanya kau tak mengenaliku, Sakura~."
"Yah~ Makanya aku tanya kamu siapa!." Ucap Sakura memperkeras suaranya, sungguh tidak seperti sifat malaikat yang sesungguhnya.
"huhu~." Boneka plush toy itu menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri "Aku Kerberos, aku kan membantumu di dunia manusia ini." Serunya menyombongkan diri.
"Kero? Kenapa kamu tak bilang dari tadi~." Seru Sakura dan langsung memeluk Kerberos.
Kerberos, dewa berwujud singa yang mendampingi Raja Surga dan juga merupakan teman bermain Sakura dari dulu. Biasanya Sakura memanggil Kerberos dengan sebutan Kero, walaupun dulu Kero tidak suka dipanggil seperti itu.. tapi sekarang ia sudah terbiasa.
"Le... Lepaskan aku Sakura! Aku tak bisa bernafas!." Langsung saja Sakura melepaskan pelukannya dari Kero dan meminta maaf padanya. Lalu Sakura langsung berbaring supaya ia tak telat masuk besok. Sakura pun langsung tertidur, diikuti Kero yang juga tertidur di sampingnya.
Keesokan harinya, "Kyaa! Sudah jam segini!." Sakura melihat jam wekernya yang sudah menunjukkan pukul 07.30 tanda ia kesiangan. Sakura langsung mengganti pakaiannya dengan seragam dan bersiap turun ke bawah.. Tapi langsung dihalangi Kero di depan pintu.
"Sakura... Jangan lupa bawakan aku cake atau puding.^ ^." Ucap Kero dan pintu langsung dibuka sehingga Kero terpental dan wajanya masuk ke dalam dvd. Sedangkan Sakura hanya mengangguk dan langsung turun kebawah.
"Gomen, aku telat~." Seru Sakura pada keluarganya dan Sakura langsung duduk di meja makannya yang sudah tersedia sarapan yang dibuatkan oleh ayahnya.
"Dasar KAIJUU!" (Bener gak ya tulisannya kaya gini?) Ucap Toya dan membuat Sakura kesal, tapi ia menahan emosinya karena hari ini adalah hari pertama Sakura memasuki kelas yang baru. Walaupun sebenarnya di dunia manusia mereka menganggap Sakura sudah berada lama di dunia manusia.
Sakura memakan makanannya dengan cepat dan berangkat bareng dengan kakaknya, Sakura memakai sepatu rodanya dan perlengkapan perlindungan sedangkan Toya pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda. Tapi sebelum pergi, ayah mereka memberikan bento pada mereka berdua untuk dimakan saat istirahat.
"Ittekimasu~" Ucap mereka berdua dan langsung berangkat, di perempatan mereka bertemu dengan seorang laki-laki sebaya dengan Toya yang mengenakan kacamata sedang menunggu seseorang.
'Siapa?.' Sakura berbatin ria.
Toya menghentikan sepedanya dan langsung mengajak orang itu berangkat bersama dengannya. Ternyata dia adalah Yukito teman dekat Toya dia merupakan pemuda yang ramah karena selalu tersenyum pada semua orang. Ntah kenapa mata Sakura selalu menatap pada pemuda itu, tak bisa melepaskan pandangannya pada Yukito. Mungkin...
Sakura telah suka pada pemuda itu...
.
.
.
Sakura memasuki kelasnya yang baru, pertama-tama ia mengucapkan 'ohayou~' pada semua anak di kelasnya. Sakura melangkah ke tempat duduknya di paling belakang baris ke-2 dekat jendela. Sakura menatap seseorang yang duduk dibelakangnya itu, Sakura merasa asing dengan laki-laki tersebut, begitupun dengan Syaoran.
'Aku merasa asing dengannya' Batin mereka
"Siapa kamu?" Tanya mereka berdua secara bersama-samaan lagi.
Terjadi keheningan sesaat, lalu mereka berdua tertawa pelan. "Haha, masa kau lupa denganku sih! Aku Syaoran Li~!." Ucap Syaoran menjelaskan.
"Aku Sakura Kinomoto" Ucap Sakura dan menduduki bangkunya lalu mengahadap kedepan.
'Aneh, kenapa seperinya dia berpura-pura mengenaliku ya~!' Batin mereka berdua, mencurigai satu sama lain. Tapi pemikiran itu mereka buang jauh-jauh supaya tak terjadi kesalah pahaman di antara mereka.
Kelas 5 kelas baru Sakura dan Syaoran sekarang, mereka masuk ke kelas itu karena tampilan mereka masih seperti anak kelas 5 sd. Tapi padahal sebenarnya umur mereka berdua sudah ratusan tahun. Akhirnya pelajaran dimulai tak ada yang istimewa selama pelajaran tersebut.
-Skip time-
Jam istirahat, seorang gadis manis berambut panjang mendekati Sakura dengan ketakutan. Gadis ini bernama Tomoyo, ia memiliki suara yang indah. Tomoyo mendekati Sakura dan berkata "Apa kamu tahu rumor di ruang musik?" Tanya Tomoyo pada Sakura.
"Tidak, Tomoyo-chan" Seru Sakura "Ada apa memangnya?" Tanya Sakura lagi.
"Kemarin.. Saat aku masuk ke ruang musik, aku mendengar suara piano yang dimainkan. Tapi saat aku masuk, aku tak melihat seorang pun didalamnya" Ucap Tomoyo ketakutan.
"Uuii?" Sakura memang takut dengan suatu hal yang berhubungan dengan hantu-hantu seperti itu.
Syaoran menatap dari belakang dan mendengar pembicaraan di antara mereka berdua, lalu langsung bergabung dengan mereka. "Katanya dulu disana ada guru musik yang bunuh diri" Ucap Syaoran dan langsung membuat bulu kuduk Sakura kembali merinding.
"Ah~ Aku juga pernah mendengar hal itu!" Tomoyo ikut merinding mendengarnya. "Aku jadi takut, padahal aku hari ini harus latihan.. Hiks.." Tomoyo menangis, ia merasa takut dengan hal seperti itu, padahal ia sangat suka menyanyi, tetapi jika tempat yang selalu ia gunakan untuk latihan menjadi tempat yang tidak tenang, apa yang harus ia lakukan?.
"Tomoyo-chan~" Sakura ikut merasa sedih karena ia merasa sekarang Tomoyo adalah sahabat dekatnya. 'Aku harus ceritakan ini kepada Kero' Batin Sakura dalam hatinya.
'Hehem' Syaoran tertawa dalam hatinya, sepertinya ia mempunyai rencana buruk di balik senyumannya itu.
Kediaman Kinomoto
Sakura kembali dan menceritakan semuanya pada Kero, "Hm~~ Kemungkinan ini adalah perbuatan dari Raja Kegelapan. Ia sengaja membuat hal itu supaya manusia di bumi akan merasa ketakutan, sehingga di balik semua itu ia memiliki rencana lain yang tak kuketahui~" Kero menempatkan posisinya seperti Shinichi Kudo yang di Detective Conan saaat sedang berpikir.
"Ja.. Jadi itu bukan hantu kan~?" Seru Sakura gemetaran, Kero menggeleng. Lalu ia mengepalkan tangannya dan berkata "Baik, kita akan mengembalikan roh yang memainkan piano itu ke Surga sehingga roh yang dikirimkan ke dunia untuk menakuti orang tidak lagi tersegel di neraka!" Seru Kero panjang lebar.
"Uiii? Jadi di hantu?" Sakura tambah merinding, dengan ragu-ragu Kero menganggukkan kepalanya. "Ah~! IIIEeeeee" Seru Sakura.
Di Sekolah, terdapat seorang siswi berambut panjang diurai sedang mendekati ruang musik dengan rasa takut dihatinya. "Ba.. Bagaimana ini~" Serunya ketakutan. "Ta, Tapi jika aku tak masuk aku tak akan bisa latihan.. Tapi aku takut~" Perlahan tetesannya air matanya kembali keluar.
Tiba-tiba muncul cahaya gelap di depan Tomoyo dan muncullah sesosok laki-laki berpakaian hijau dan bertopi yang terdapat lambangYingYang-nya. Perlahan ia mendekati Tomoyo..
"Manusia yang sedang dalam masalah, maukah kau menerima bantuanku?" Seru sosok yang dikenal bernama Syaoran itu kepada Tomoyo.
Tanpa berpikir apapun, Tomoyo mengulurkan tangannya untuk menyambut bantuan dari sosok tersebut. 'Bagus~' Syaoran tersenyum puas.
Beberapa saat kemudian, Syaoran siap mengambil rasa tersebut untuk menjadi kekuatan sang Raja. Tapi terdengar suara langkah kaki, dan berhentilah sebuah sosok yang memiliki sayap berpakaian putuh dan "Boneka plush toy?" Seru Syaoran dan membuat Kero ngamuk.
"Aku bukan boneka anak kecil! Sakura, ayo kalahkan dia!" Seru Kero.
Walaupun Sakura menjadi kesal karena Kero menyuruhnya seenaknya, tapi akhirnya Sakura melakukannya juga.
"Iblis yang naik ke bumi dan membuat masalah, tempatmu bukan disini! Akan kukembalikan kau ke neraka, enyahlah!"
"Ayo serang dia!" Seru Syaoran pada roh piano yang dikirim raja kegelapan.
"Tidak akan kubiarkan roh yang seharusnya kembali ke Surga menjadi gentayangan karenamu!"
To Be Countinue
(Ch. 1 End)
Ohohohohhoho~ Bagaimana minna? Apa kalian tertarik? Jika tertarik baca chapter selanjutnya ya! Tapi setelah baca ini sudah tak tertarik, dimohon untuk tidak melanjutkan membacanya lagi.
Mungkin banyak kesalahan dalam pembuatan chapter ini dan juga mungkin terlalu pendek. Tapi akan Kida usahakan yang berikutnya akan lebih panjang.
Ok, akhir kata tinggalkan riview ya^^
Np. Relase My Heart- Sakura Tange
R
I
V
I
E
W
::
::
::
::
V
V
RIVIEW

Exchange! Chapter 3


 Exchange!

Author: Grey Chocolate

NARUTO © Masashi Kishimoto
SasuHina & NaruSaku
AU, OoC, etc
Terimakasih untuk semua yang sudah memberikan review kalian. Dukungan kalian adalah penyemangat untukku!
.
. .. .•. .. .
.
Masa lampau dan masa depan yang menyelisihi kini beradu
Keduanya terbaur dalam serumpun demi sebuah kisah
Dibawakannya masa lampau untuk masa depan dan dibimbingnya masa depan untuk mengilhami masa lampau
Karena, waktu adalah padu. Maka keduanya akan saling berkorelasi meski tak satu ….
"Ibuuu!"
Ananda berperawakkan mungil mendekap kaki sang ibu yang berpostur melebihinya. Ia tampak bersemangat meski kini lampion rembulan telah dinaikkan. Sementara itu, sang wanita yang memiliki kesamaan warna iris mata dengan sang buah hati hanya tersenyum lembut. Ia mendekap yuana mungil yang masih menggelayuti kakinya.
"I-ibu jangan pergi! Hinata takut sendirian." Gadis mungil bernama Hinata masih merengek. Linang air mata tampak bercahaya di antara gemerlapnya malam.
Suasana di atap laboratorium begitu lengang. Hanya gagak yang sesekali berdendang di antara dahan. Beberapa bawahan sang wanita memancarkan raut tak rela akan keberangkatan sang profesor ke suatu masa. Masa lampau.
"Ibu pasti akan kembali untukmu, Hina-chan. Jadilah anak baik ketika ibu pergi."
Hinata mengangguk dalam senggukkannya. Ia melepaskan jemari lumatnya dari sang ibu dan membiarkan tubuh wanita yang teramat ia sayang berbalik untuk kemudian berjalan menuju mesin waktu yang telah siap membawanya melorongi zaman. Akan tetapi, sebelum itu sang wanita terlebih dahulu menghampirkan dirinya pada seorang bocah lelaki bersurai merah bata yang berdiri di dekat mesin waktu.
"Gaara." Wanita Hyuuga itu menepukkan kedua telapaknya pada bahu sang bocah. "Tolong jaga Hinata baik-baik. Kau sayang dia, bukan?"
Bocah yang disebut "Gaara" tak menunjukkan ekspresi berarti. Hanya ada pengiyaan singkat yang ia timpalkan atas permintaan sang profesor.
Wanita berjubah putih tertawa geli. Sembari mengacak surai sang bocah ia bersenda, "Kau ini! Benar-benar anak kecil minim ekspresi! Seperti patung panda saja."
"Ya, sudah. Aku harus segera pergi sekarang." Ia beranjak dan menatap seluruh awak penelitinya di kali yang terakhir. Dalam lambaian tangan dan haru-biru, ia menghentakkan kedua kakinya untuk melabuhi waktu. Pergi ke masa lalu.
Saat itu pulalah, seorang gadis kecil bernama Hinata digariskan-Nya untuk menjalani hidup yang berbeda dari anak sebaya yang lain.
E X C H A N G E!
Chapter III
TRANG!
"KAKIMU KURANG TEGAK! KALAU KAU SELEMAH ITU, MUSUH BISA MELUMPUHKANMU DALAM SEKEJAP!"
Inilah fajar hari di balik sebuah terjunan air. Dua orang samurai tengah berlatih dengan katana di tangan mereka. Hinata, atau yang kini beraliaskan Ryuu dan Uchiha Sasuke. Meski surya belum meninggi, semangat keduanya berkobar melebihi teriknya tengah hari. Gaara yang senggang di sisi lain hanya mengisi waktu dengan membersihkan katana-nya, Naruto dengan kesibukkan untuk mencari lauk-pauk dan Sakura yang tengah merapikan tatanan surainya di sisi tebing.
Beberapa jam terlewati dan kedua samurai yang semenjak tadi bergulat dalam pelatihan mulai tampak letih.
"Hei." Uchiha memanggil sang guru yang tengah duduk bersila dengan kendi air minum kecil yang tengah ia tenggak.
Ryuu menoleh pasca menelan seluruh likuid di dalam kendi. "Kenapa?"
"Kenapa kau mau membantuku?"
"Bukankah sebelum latihan aku sudah mengatakannya padamu? Aku datang ke sini untuk mencari ibuku. Jadi, anggap saja bahwa dengan membantumu mungkin aku akan lebih mudah menemukan ibu."
Uchiha memandang belantara angkasa. Kemudian, helaan napas terdengar memanjang dari mulutnya. Ia bangkit dan menepuk-nepuk celananya yang sedikit kotor.
"Semuanya!" Ia berlantang. "Kita akan mencari jalan keluar dari hutan ini dan pergi ke desa seberang untuk menginap."
Naruto yang tengah menusukkan katana-nya pada seekor ikan tercenung. "Kau punya uang, Sasuke?"
"Tidak."
"Apa? Lalu bagaimana kita bisa membayar uang sewa penginapan?"
Kerlingan dari kedua oniks Sasuke seolah menganugerahi otak Naruto dengan ide gila.
"Kau benar. Kita bisa sedikit mencuri harta dari pegawai istana. Tapi, bagaimana kita bisa keluar dari sini? Kau bilang kau kehilangan peta kita, bukan?"
Kembali, Uchiha itu tak gentar. Ia menyesarkan wajahnya pada sang guru yang hanya terhening menanti apa yang hendak Sasuke katakan padanya.
"Guruku ini pasti membawa sesuatu untuk membawa kita keluar dari hutan ini. Bukan begitu, guru?"
.
. .. .•. .. .
.
"LARIII!"
Sasuke, Ryuu, Gaara, Naruto dan Sakura memacu kaki mereka untuk kabur dari ratusan pengawal yang mengejar. Beberapa saat lalu, pasca berhasil keluar dari hutan, mereka langsung melancarkan aksi untuk mencuri harta properti keluarga sekretaris kerajaan gendut bernama Chouza yang tampak mencolok karena megahnya bangunan. Aksi mereka berjalan lancar, timbunan keping emas dan beberapa uang tunai berhasil diselundupkan ke dalam buntalan kain. Akan tetapi, sayang, mereka tertangkap basah tepat tempo hendak meloncat melewati pagar kediaman mewah Akimichi. Oleh karenanya, kini mereka tengah dikejar oleh ratusan pengawal Akimichi yang merasa penjagaan ketat mereka kecurian oleh samurai-samurai tengil.
"Naruto! Kau dan Sakura bersembunyilah! Jangan sampai mereka merebut kembali harta yang telah kita curi! Kemudian, guru dan Gaara! Kalian berdua bantulah aku untuk melumpuhkan mereka di tanah lapang!" Uchiha raven memberikan komandonya.
Segera, mereka menjalankan rencana Sasuke yang dibuat begitu mendadak. Naruto dan Sakura menyembunyikan diri di balik lumbung padi sedangkan Ryuu, Sasuke dan Gaara bersiap menghadang para pengawal.
Kali ini, senyuman penuh percaya diri melebar di bibir Sasuke. Ia percaya bahwa kini ia tak akan lagi kalah hanya oleh gulungan manusia yang tak begitu kuat seperti mereka. Meski demikian, Ryuu telah memperingatkan Sasuke untuk tidak meremehkan musuh siapa pun mereka.
.
. .. .•. .. .
.
Petang hari. Kelima manusia itu berjalan terseok menuju sebuah penginapan. Bukan karena kalah atas pertarungan tadi yang menjadi musabab mereka seperti ini. Namun, karena rasa lapar yang tak terbendung. Apalagi mereka hanya makan satu ekor ikan di pagi hari yang jelas tak akan cukup bahkan hanya untuk mengganjal perut.
Dalam pertarungan tadi mereka menang dengan telak. Seluruh pengawal berhasil dilumpuhkan dan bagai biasanya, dijadikan gundukkan manusia oleh Naruto dan Sakura. Tak ada luka serius di tubuh mereka terkecuali luka parah di perut Sasuke yang belum mengering seutuhnya dan sesekali tadi menimbulkan rasa nyeri meski tak sampai mengganggu kinerja sang samurai oniks.
Setelah berjalan kurang lebih dua jam, akhirnya mereka berhasil menemukan sebuah penginapan yang lokasinya cukup terpencil di sisi desa tanpa ada pengawal kerajaan beserta antek-anteknya. Di sana, mereka disambut begitu ramah oleh sang pemilik yakni Chiyo yang memang tidak peduli pada pemerintahan. Ia yang seorang veteran zaman dahulu sudah cukup kecewa dengan remuknya ideologi di sana. Yang lebih disayangkan, ia belum menemukan seorang pun yang berani menentang kerajaan demi era yang lebih menunjang. Karenanya, mendengar alkisah Sasuke dengan misinya, Chiyo menjadi gembira. Ia bersyukur masih ada kaum muda yang mau mempertaruhkan nyawa demi revolusi besar-besaran.
Setelah dijamu dengan camilan ringan saat tiba di penginapan, mereka berlima kini berpencar untuk mencari informasi mengenai kerajaan pusat dan keamanannya. Lain hal Sasuke, Naruto dan Sakura. Ryuu dan Gaara justru memilih berada di penginapan. Mereka masih harus membiasakan diri dengan masa lampau yang masih ditempeli cap purbakala. Seperti saat ini, saat di mana Gaara diajak oleh salah seorang pegawai penginapan untuk bercocok tanam di kebun pemilik penginapan sementara Ryuu menemani Chiyo berbincang di pinggiran.
"Nak Ryuu. Meski kau berpenampilan maskulin, aku masih bisa menyadari bahwa kau adalah seorang gadis muda."
Seluncur kalimat yang Chiyo lantunkan membuat Ryuu sedikit berjengit kaget. Ia yang saat itu tengah membantu Chiyo untuk menghias keranjang dengan bunga petikkan dari taman penginapan tak berkutik ketika sang lansia mengutarakan identitas dirinya yang asli. Tapi, senyuman tipis terulas di balik topeng yang Ryuu kenakan. Sudah sewajarnya seorang nenek yang telah hidup puluhan tahun untuk dapat mengetahui hal-hal demikian. Mereka telah memakan asam-garam hidup dan berkiprah ke segala pengalaman.
"Anda benar, Chiyo-baa."
Chiyo terkekeh renyah. Ia lantas berdiri menantang mentari terbenam yang kini biasnya meronakan oranye pudar ke wajah tuanya yang dihinggapi senyuman.
"Benar-benar gadis yang dapat dijadikan panutan. Andai saja semua gadis punya jiwa pemberani sepertimu."
"Saya merasa tersanjung."
"Baiklah. Aku pergi ke dapur dulu. Sepertinya jam makan malam sebentar lagi. Aku tidak bisa membiarkan pelangganku terlambat menikmati jamuan makan malam. Santai-santailah di situ."
"Baik."
Drap ….
Sesosok manusia yang baru saja kembali usai berkeliling desa menghampiri Ryuu dalam sunyi. Manusia berjenis kelamin lelaki yang rupanya Sasuke tertegun menyadari betapa kemayunya sang guru. Ryuu bahkan dapat melaksanakan tradisi ikebana bak keterampilan seorang yamato nadeshiko. Terlebih, Sasuke terpana dengan lihai-gemulai tangan Ryuu ketika ia melengkungkan batang-batang bunga tersebut untuk dimasukkan ke dalam keranjang kayu.
"Aku tidak menyangka guruku punya kecenderungan menjadi seorang hime," komentar Uchiha sembari melangkahkan kaki pada sang guru.
Menyadari kedatangan seorang tamu tak diundang, Ryuu mengebengkalaikan pekerjaan yang belum rampung sepenuhnya. Ia lantas beranjak dan meraih katana-nya dalam sekelebat untuk ia acungkan tepat di depan hidung Uchiha tampan. Namun, Sasuke tak berkelit. Air mukanya tetap tenang menanggapi serangan tiba-tiba yang dilancarkan oleh sang guru kendatipun ujung katana yang runcing menyapa penglihatannya begitu dekat.
"Huh! Rupanya pecundang kemarin telah lenyap, ya." Ryuu menyarungkan kembali katana miliknya.
Seringai yang sarat akan kebanggaan terlihat jelas dari wajah rupawan samurai Uchiha. "Begitukah? Apa aku harus berhenti memanggilmu guru,eh?"
Ryuu berdecih. Digapai sebuah handuk yang terjemur di dekat siluetnya dan ia pun lekas berjalan pergi.
"Aku mau mandi. Sampaikan pada Gaara untuk makan malam duluan tanpa perlu menungguku."
"Ah, aku lupa bahwa aku juga belum mandi." Sasuke menggaruk pangkal lehernya seraya hendak meraih sebuah handuk dari jemuran. Akan tetapi, ia urung melakukan hal tersebut saat moncong sarung katana seolah melarangnya untuk melaju meski hanya selangkah. Ia mengangkat alis keheranan kepada Ryuu.
"Aku akan mandi sendiri. Jadi, tunggulah sampai aku selesai."
.
. .. .•. .. .
.
Byuuur!
Ryuu yang kini telah berada dalam onsen, menenggelamkan setengah wajahnya yang memerah di balik topeng. Ia benar-benar tak habis pikir bahwa ia akan sedemikian salah tingkahnya dengan tutur polos Sasuke. Ia paham, Sasuke memang benar. Ia kini dalam kepura-puraannya sebagai seorang pemuda. Tapi, tetap saja insting gadisnya merasa berdebar saat diajak mandi oleh lawan jenis.
"A-aku benar-benar m-malu sekali …." Ryuu mengeluarkan gelagap dengan suaranya yang asli.
Jemari Ryuu kemudian meraba kepala dan dengan setali tarik, temali yang mengikat jumputan surainya terlepas. Tak ketinggalan, topeng bermotif sabit merah pun kini telah tanggal dari wajah cantik gadis anggun tersebut. Kini, ia bisa kembali mendapati wajahnya dalam pantulan air. Wajahnya sebagai Hinata. Wajah yang laksana pinang dibelah dua dengan sang ibu.
Ibu, bagaimana kabarmu sekarang ini? Apa yang menahanmu untuk kembali ke masa depan? Kenapa kau tak kunjung kembali?
.
. .. .•. .. .
.
"OISHII-TTEBAYOUUU!" Naruto berseru penuh semangat ketika lidahnya mengecap rasa mie ramen yang tersaji di meja.
Haruno muda menyipitkan mata dan menyuruh pemuda di sisinya untuk diam dengan wajah yang dibuat seram. Alhasil, Naruto pun susah payah menelan ramen dalam mulutnya saking ketakutan.
Kini, tiga pemuda dan satu gadis tengah menikmati hidangan makan malam yang penginapan sediakan. Udang, ramen dan panganan lain yang menggugah selera disajikan di atas piring dan bambu yang dipercantik dengan hias aneka kembang. Sasuke hendak menyumpitkan sebuah tempura andaikata ia tidak menyadari bahwa Gaara belum menyentuh sedikit pun masakan di hadapannya.
"Makan saja, Gaara. Ryuu bilang padaku untuk menyuruhmu makan duluan. Ia tidak ingin kau menunda makan hanya karena menunggunya selesai mandi."
Sabaku no Gaara terdiam. Meski Hinata sendiri yang menitahkannya untuk segera mengisi perut, toh, ia lebih baik menanti Hinata selepas mandi ketimbang makan sendirian dengan cita rasa yang tak terasa enak di lidah tanpa kehadiran sang gadis pujaan.
Malam itu mereka larut dalam kedamaian tanpa menyadari bunyi mencurigakan dari arah pintu belakang.
"Khukhukhu … lihat saja, bocah tengik! Sampai di mana kalian bisa berulah dengan kami. Terlebih denganku, ketua pengawal sekretaris kerajaan. Darui!"
-To Be Continued-
.
.
.
Thanks for reading!

Courtesy: FanFiction.Net

Exchange! Chapter 2


 Exchange!

Author: Grey Chocolate

 Masa depan, masa lampau, peperangan dan keajaiban. Itulah unsur yang membungkus kisah ini. Kisah di mana waktu terbantahkan logisme-nya. Kisah di mana fakta bahwa masa lampau dan masa depan selalu berelasi benar adanya.
Lewat frasa demi frasa yang kuletakkan di sini, biar kuurai segalanya. Untuk kisah yang kupersembahkan dengan judul ….
Exchange!
NARUTO ©
Masashi Kishimoto
Pair
Sasuke & Hinata
Slight
Naruto & Sakura
Warning
AU, OoC, typo[s], etc
Chapter Terdahulu :
Pagi ini seluruh asisten sang profesor berjajar di laboratorium dengan rapi seolah hendak menyampaikan salam perpisahan pada objek masa lalu yang dibawa mesin waktu. Sasuke sendiri telah berada di hadapan mesin waktu yang telah di perbaiki dengan sang profesor dan Gaara di depannya.
"Terima kasih. Kurasa aku sudah merepotkanmu. Padahal kau telah menolongku dari sergapan samurai-samurai liar dan membantuku kembali ke masa lalu." Sasuke membungkuk sejenak.
Sang profesor yang pagi ini menanggalkan masker di mulutnya tersenyum tipis. "Tak masalah. Aku dan kau bisa dibilang membantu satu sama lain. Anggap saja bayaran karena kau telah menjadi kelinci percobaan untuk temuan terbaruku ini."
"Huh! Baiklah." Sasuke mengangguk kecil dan segera berjalan menuju pintu mesin waktu yang terbuka. "Sekali lagi terima kasih."
Dengan diiringi lambaian tangan dari para asisten dan sang profesor, pintu mesin waktu pun mulai menutup kembali. Namun, sebelum mesin waktu itu lepas landas, sang Uchiha sempat balas melambaikan tangan sembari berucap, "Selamat tinggal, Tuan Profesor."
Mesin waktu itu pun menghilang dalam sekejap mata dengan sukses tanpa merusak atap bangunan seperti yang telah terjadi. Meninggalkan sisa-sisa cahaya hijau cerah di sana.
Para asisten kembali mengedar untuk melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda. Sang profesor sendiri berjalan menuju jendela diikuti Gaara yang mengekor di belakangnya.
Jemari putih sang profesor bertengger menarik perlahan kacamata berlensa tebal yang ia kenakan. Memerlihatkan sepasang mutiara lavenderindah yang terpasang apik di baliknya.
"Dia memanggilku 'Tuan'? Dasar bodoh, aku wanita, tahu!" Profesor muda itu terkekeh dan mendongakkan wajahnya ke langit biru yang ada di balik jendela besar di hadapannya.
Dan seharusnya kau tidak perlu mengucapkan selamat tinggal … karena kita pasti akan bertemu lagi, Sasuke-kun….

Chapter II
I'm Curious You
BWUSHHH!
"GYAAA!"
Sebuah bola yang merupakan tumpukan manusia berpakaian baja layaknya serdadu perang yang pingsan melaju ke arah siluet seorang gadis bersurai merah jambu dengan yukata merah membungkus kemolekan tubuhnya. Dengan panik, gadis tersebut berlari berbelok ke sebuah hutan sehingga bola tumpukan manusia itu menabrak tembok dan tercerai-berai.
Gadis yang rupanya memiliki kelereng jamrud bundar membungkukkan tubuh dan menetralisir ritme napasnya yang berirama kencang seusai berlari tergesa sedari tadi.
Belum sempat menghela napas lega, seorang pemuda pirang ber-yukata biru yang tengah menggigit tusuk gigi berlari ke arahnya dengan peluh deras di setiap inci bagian wajahnya.
"SAKURA-CHAN! LARIII!"
Sang gadis sontak menengadah dan mendapati puluhan manusia tengah mengarahkan panah pada sang pemuda yang berlari ke arahnya. Sepasang jamrud membentuk lingkaran penuh, membelalak untuk kali kesekian ketika lagi-lagi ia harus dihadapkan pada situasi genting bahkan ketika ia belum mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan.
Baka! Kenapa lari ke sini?
Sang gadis menghujat dalam hati sembari ikut berlari menyusul sang pemuda yang berlari terlebih dahulu menuju ke dalam hutan.

Di terik hari yang menyilaukan netra, Uchiha muda mengusap keringat yang keluar dari lubang pori-porinya sembari memicingkan dua oniks yang tampak belum terbiasa dengan kemilau sang mentari. Ia mengutuk cuaca sejenak, sebelum akhirnya kembali melangkahkan kaki menjauhi bola waktu yang membawanya kembali ke masa lampau. Pemuda bernama lengkap Uchiha Sasuke mengarahkan pandangannya ke berbagai penjuru, memantau keadaan bilamana ia ditemukan kembali oleh pihak musuh yang memburunya.
Namun yang ia peroleh hanyalah keheningan, tentu saja. Mengingat ia telah seharian lenyap dari masa lampau dan berkiprah ke masa depan di mana teknologi mutakhir berlabuh. Barangkali, para pemburunya telah kembali ke markas setelah menyadari bahwa target yang mereka kejar menghilangkan jejak dengan cantik.
Langkah sepasang kaki milik sang pemuda lantas membawa ia berjalan tak tentu arah. Ia bahkan tidak tahu di mana kakinya memijak kini. Ia baru saja singgah di desa ini beberapa hari yang lalu. Jadi, jangan salahkan ia bila arah membutakannya. Ia hanya seorang asing yang kabur ke hutan karena terdesak dan kini menjadi seorang tersesat karena sebuah peta yang menjadi pegangannya bertualang tertinggal entah di mana.
Raven menundukkan wajahnya ketika semilir angin mengelus lembut tubuhnya. Membiarkan hawa sejuk merasuk dan mengurangi kapasitas rasa panas yang matahari berikan. Musuh yang menantinya berjumlah sangat banyak dan mau tidak mau harus ia bereskan satu per satu. Itulah problema yang membuat Uchiha Sasuke merasa gentar. Takut.
Apa ia akan kalah? Apa upayanya untuk memerdekakan negara begitu sulit diraup?

"Aku harus segera kembali ke masa lalu! Aku tidak boleh kabur seperti ini! Aku harus mengalahkan kerajaan barat!"
"Jangan khawatir. Kau akan segera bertemu temanmu dan menyelamatkan negaramu sebentar lagi."

Sasuke teringat akan perkataan seorang profesor dari masa depan yang dua kali telah berbaik hati membantunya—sekali tak disengaja, ketika ciptaan sang profesor membawanya melarikan diri dan yang kedua ketika ia ingin kembali sesegera mungkin ke masa lampau. Pemuda itu menelengkan kepalanya. Ia merasa malu dan konyol. Bagaimana mungkin ia melupakan tekad yang ia kampanyekan di hadapan sang profesor? Sebuah misi kedamaian yang tengah ia wujudkan. Itulah mengapa tidak sepantasnya ia takut bertemu dengan orang-orang yang memburunya karena hal tersebut memerlihatkan betapa pengecutnya ia. Sekaligus, menunjukkan betapa ia masih lemah dalam menghadapi musuh. Berapa pun musuh yang menghadang langkahnya, sayap sang elang harus tetap mengibas cakrawala, begitulah seharusnya ia beraksi. Bukankah pahlawan adalah pemberani?
Uchiha menarik napas perlahan dan memejamkan mata. Diisinya kekosongan pikirannya dengan sugesti keberhasilan yang memprovokasi semangatnya untuk muncul kembali. Tatkala dua oniks terbuka, maka kini di sana ada kobar api semangat yang membara. Bukan kegentaran yang menghambat, tapi sebuah keberanian yang terpahat.
Ah … Apa ia kelelahan setelah begadang semalaman demi mesin waktu?
Pikiran sang pemilik bola mata oniks kembali melanglang buana pada sesosok manusia. Meronakan merah muda di pipinya.
Kenapa aku jadi sering memikirkannya? Dasar bodoh! Ditampar pipinya sendiri perlahan. Dia ini lelaki! Tunggu … tapi, apa benar dia lelaki?
Samurai tampan itu kini menyentuh dagunya, berpikir. Benar juga. Ia tak sepenuhnya tahu sosok sang profesor tersebut. Tak heran. Bagaimanapun, sosok profesor yang menetap di masa depan tersebut terlampau tertutup. Bahkan, warna mata dan surai yang mengemas fisiknya saja ia tak tahu. Yang diketahui sang pemuda adalah bahwa suara sang profesor sedikit berat. Tapi, bisa saja hal tersebut disebabkan karena efek pemakaian masker di mulutnya.
Sasuke dibuat risau sendiri oleh pemikiran-pemikiran yang hinggap di otaknya. Sedikit banyak ia berharap sang profesor adalah perempuan. Keinginan yang secara tak sadar timbul dikarenakan sebuah alasan yang ia tidak ketahui apa.
BRUAGH!
Dua siluet manusia menabrak sosok sang Uchiha. Membuat pemuda yang tengah memikirkan suatu perkara itu terkejut dan tak dapat menghindar ketika dua tubuh menimpanya. Hendak melontarkan kekesalan, surai pirang yang pertama Sasuke lihat membuatnya menahan diri. Ya, surai pirang itu adalah milik sang familiar yang berada di pihaknya. Rekannya.
"Naruto? Sakura?" Ia memandang heran pada dua manusia yang kini beranjak bangun. Dua manusia yang berada tepat di depannya semula tak bereaksi apa pun dan justru mengaduh karena rasa nyeri saat tulang mereka terkena tulang sang Uchiha. Akan tetapi, begitu kepala mereka terangkat dan tepat terpajang di depan wajah Uchiha, ulasan senyuman lebar hadir di bibir mereka.
"SASUKE!" Kedua manusia merah jambu-kuning itu lekas saja merengkuh sosok seorang yang mereka kenal. Ya, rekan baik mereka sedari kecil. Sasuke. Sosok yang juga berjuang bersama mereka dalam patriotisme negara.
"Syukurlah! Kukira kausudah ditawan musuh!" Pemuda berkumis kucing bernama Naruto mengacak-acak surai sang pemuda sementara gadis di sisi Naruto menganggukkan kepalanya.
Uchiha yang sedikit risih akan kelakuan sang pemuda sebayanya itu hanya menepis pelan tangan tan yang meraih raven di kepalanya. Ia bersandar pada batang pohon yang menjulang tinggi, kemudian.
"Aku pikir kondisiku sudah terdesak kemarin setelah mereka memblokir area hutan dan menyudutkanku ke dekat sungai berarus deras. Tapi, aku beruntung."
Pemuda yang mengenyam marga Uzumaki itu menghela napas panjang. "Baguslah."
"Kalian sendiri?" Oniks Sasuke menatap dua rekannya. Pertanyaan basa-basi, tentunya. Karena dengan mata kepalanya sendiri ia dapat memastikan kedua rekannya baik-baik saja tanpa bekas luka berarti.
"Seperti yang kau lihat! Aku dan Sakura-chan baik-baik saja."
Baru saja akan melanjutkan sesi reuni, sebuah panah melesat ke batang pohon yang disandari oleh sang Uchiha. Membuat sosok tiga rekan itu berbalik dan mendapati tim pengejar telah ada di belakang mereka. Jumlahnya cukup banyak. Lima puluh orang. Setengahnya ahli panah dan setengahnya lagi merupakan manusia dengan pedang yang menatap mereka nyalang seakan Sasuke dan rekannya merupakan kelinci dalam kandang macan.
Tak mau kalah dari rasa takut, Sasuke mencabut kusanagi dari sarungnya dan berjalan ke depan para pemanah dan samurai. Melihat aksi sang Uchiha, Naruto dan Sakura silih pandang dan ikut berdiri di sisi sang rekan. Naruto mencabut katana-nya dan Sakura meraih tombak yang ia letakkan di punggungnya.
Ketiganya bersiap melawan musuh yang telah menarik senar busur untuk melesatkan anak panah dan telah bersiap menghunuskan pedang runcing yang seolah haus akan darah mereka bertiga.

(Hokkaido)
Seorang gadis muda bersurai indigo sepunggung tengah menghirup secangkir kopi sembari memandangi layar berukuran cukup besar di depannya. Ia tersenyum tipis ketika melihat peperangan kecil dipertontonkan oleh para pemain nyata yang tayang di sana.
Menyadari itu ada lingkar hias senyum yang mewarnai air muka sang atasan, sang asisten dari sang gadis yang ternyata adalah Gaara, menghampiri.
"Apa gerangan yang membuat sang profesor minim ekspresi bisa mengulaskan senyuman?" Ia bertanya pada sang gadis yang merupakan identitas sang profesor sesungguhnya. Setelah ikut menengok ke arah layar, sang Sabaku itu terdiam. Jawaban yang ia temukan membuat senyum kecil di wajah Gaara memudar.
Ternyata samurai itu ….
Jujur, ada kelebat rasa tidak suka saat ia menangkap sinyal tak biasa dari sang profesor teruntuk sang samurai dan ia menyadari hal ini sejak kedatangan manusia masa lampau itu ke laboratoriumnya kemarin. Ada gelagat perhatian yang ia rasakan ditujukan sang profesor pada orang asing itu. Membuat ia merasakan firasat buruk.
Soal perasaannya sendiri pada sang profesor.
Ya, Sabaku no Gaara mengakui bahwa dirinya telah terjerat terali amora akan pesona sang profesor. Sedari kecil ia telah mengenal sang gadis dan ia mabuk kepayang akan pembawaannya yang tenang dan lugas. Sayang, ia terlalu riskan untuk sekadar mengutarakan rasanya. Ia tak ingin sang atasan yang merangkap seorang sahabat tersebut menjadi tak nyaman berada di sisinya karena rasa cinta yang Sabaku pendam. Karenanya, hingga saat ini ia hanya dapat memerhatikan sang profesor sembari sesekali mengambil kesempatan untuk mendaratkan kecupan kecil di pipi ketika empunya terlelap. Sebatas itu saja.
Kini, ia tengah dilanda kalut, kalut kalau-kalau sang profesor menaruh hati kepada sang samurai. Apa dayanya jika itu terjadi? Ia tak mampu berkutik. Tak mungkin memisahkan keduanya karena hal itu akan membuat profesor tersayangnya sedih. Jika memikirkannya, Sabaku hanya sanggup menenggak saliva.
TRANG!
Suara dentingan pedang dari sound system di sisi layar membuat konsentrasinya kembali teralih pada kenyataan. Ia pun teringat akan pertanyaan yang ingin ia lontarkan pasca melihat tayangan tersebut.
"Bagaimana bisa?" Sabaku bertanya.
Sang profesor yang mengerti akan maksud pertanyaan sang Sabaku hanya mengedikkan bahu dan berkata, "Aku meletakkan alat penyadap di kerah yukata Sasuke-kun diam-diam ketika menepuk punggungnya kemarin. Aku penasaran tentang masa lampau di mana ia tinggal. Ketika kulihat, ternyata sangat menghibur. Lihatlah bagaimana ia dan dua rekannya bertarung mati-matian melawan lima puluh orang ahli yang diutus pihak musuh. Menarik."
Sabaku diam. Memilih tidak bertanya apa-apa lagi karena ia tak ingin mendengar nama sang samurai kembali terlontar dari bibir tipis profesornya. Merasa bahwa kehadirannya dianggap angin lalu sangkin fokusnya mata sang profesor pada layar, Sabaku berbalik dan hendak berjalan pergi jika saja sang profesor tidak terlebih dahulu membuka mulutnya.
"Gaara," panggil sang profesor muda yang kontan saja menghentikan derap kaki sang Sabaku.
Pemuda bersurai marun itu kembali menghadap sang profesornya yang telah beranjak dari layar. Sebuah senyuman terkembang di wajah manis sang gadis bermata lavender.
"Ada yang ingin kubicarakan."
Firasat tidak enak di hati Gaara kian menjadi pasca ia menghampiri sang gadis untuk mendengar sebuah bisikan di mana ia mendapat sebuah perintah yang tak mungkin ia tolak … walaupun persetujuannya akan perintah itu hanya akan membuat hatinya semakin teriris.

"Sial!" Sasuke menahan beberapa samurai di depannya dengan sebilah kusanagi, demikian dengan dua rekannya yang lain. Mereka bertiga berjibaku dalam sebuah medan laga yang membuat mereka tersudut mengingat adanya ketidakadilan dalam jumlah pemain. Tiga lawan lima puluh. Tentu saja tidak imbang.
Tapi, Uchiha Sasuke, Uzumaki Naruto dan Haruno Sakura tidak ingin kalah. Tidak, terlebih lagi melawan mereka yang tak ingin kejahatan ditumpas. Sasuke dan yang lainnya tak akan segan-segan.
Sabetan demi sabetan mencecerkan darah segar ke atas hamparan rumput hijau. Perlahan-lahan jumlah musuh berkurang seiring waktu. Namun, jumlah mereka yang jauh lebih banyak membuat mereka seakan tak habis yang tentu saja sudah menguras habis tenaga dari tiga manusia pembela kebenaran tersebut.
JLEB!
Sebuah katana lalu meluncur merobek yukata sang Uchiha yang tengah lengah. Luka lebar menganga di bagian perutnya, membuat ia meringis menahan perih seiring dengan darah yang keluar menodai warna yukata-nya. Tak jauh berbeda, Naruto pun telah terluka parah akibat tusukankatana di pundaknya dan Sakura yang mulai kewalahan menghadapi anak panah yang harus ia tangkis dengan tombaknya sehingga sesekali anak panah itu menancap di kakinya.
Merasa kesadarannya akan hilang, Sasuke menumpukan tangannya pada kusanagi yang telah ia tancapkan ke tanah. Tubuhnya mulai terhuyung ke depan, hendak menyongsong sebuah katana yang untuk kesekiankali diarahkan samurai dari pihak musuh kepadanya.
TRANG!
Sepasang katana jenis kodachi menahan pergerakan katana yang hendak menghunus tubuh Sasuke yang tidak berdaya. Dengan gerakan lihai,kodachi itu memutar katana musuh hingga terpental dari tangan seorang samurai yang memegangnya. Tak menyia-nyiakan waktu, samurai yang melindungi Sasuke segera menghunuskan kodachi-nya di dada musuh hingga ia terkapar.
Sasuke mencoba memokuskan pandangannya yang mengabur untuk menangkap siluet orang yang melindunginya. Oniksnya menangkap dengan sedikit samar sesosok samurai tegap bersurai indigo yang dikuncir tinggi layaknya Musashi dengan yukata ungu pasi dan hakama putih. Sasuke hendak berterima kasih, namun tubuhnya telah kehilangan tenaga dan terhempas ke tanah. Bala bantuan, sekiranya persepsi itulah yang membuat Naruto dan Sakura menyunggingkan senyuman lega ketika tahu nyawa Sasuke tertolong. Sementara sang samurai ber-yukata ungu dengan wajah yang ditutupi topeng putih bercorak bulan sabit merah meladeni musuh lain yang mengitarinya, seorang samurai bersurai merah bata ber-yukata coklat dan hakama kelabu yang sebelumnya hanya memerhatikan pertarungan dari atas dahan pohon, akhirnya meloncat turun untuk membantu Naruto dan Sakura dengan sebuah katana yang berbentuk unik, tipis dan panjang dengan lumuran tinta hitam yang disinyalir racun. Ia menebas bahu para musuh dengan gerakan gesit yang begitu cepat sehingga musuh tidak dapat menghindari serangannya.
Dua samurai asing itu mengayunkan katana mereka dengan lihai sehingga musuh-musuh yang ada di depan mereka dapat dilumpuhkan dengan cepat, melebihi kemampuan Sasuke, Naruto dan Sakura. Kemenangan pun mereka genggam setelah semua musuh ambruk di tempat.
Naruto menghampiri Sakura, setelahnya. Dirangkulkannya tangan sang gadis melingkar di bahunya dan ia bantu berjalan. Ia pun menatap dua penolong di hadapannya.
"Terima ka—"
"—Pemuda ini harus segera diobati atau nyawanya akan terancam," interupsi sang samurai bertopeng. Ia mengedikkan dagunya pada samurai bersurai marun yang ditanggapi dengan anggukkan pelan.
Pemuda bersurai merah bata dengan kelereng jamrud menatap Sasuke yang terbaring dengan simbahan darah dari luka di perutnya sebelum ia mengulurkan tangannya untuk memapah sang Uchiha.
"Tadi aku melihat ada air terjun di dekat sini yang memiliki gua. Kita akan pergi ke sana dan aku akan merawat luka pemuda ini juga kalian." Samurai bertopeng lalu memandu langkah Naruto dan Sakura yang berjalan tertatih-tatih di belakangnya.

SRET ….
Sang samurai bertopeng mengeratkan ikatan perban di kaki Sakura setelah sebelumnya menangani luka di bahu Naruto. Sakura menggerak-gerakkan kakinya ketika sang samurai beranjak ke tempat di mana Sasuke terbaring pingsan.
"Kakiku sudah bisa digerakkan lagi! Terima kasih!" Haruno muda memekik girang.
"Terima kasih, Tuan!" Naruto ikut memekik.
Sang samurai berkuncir hanya mendengus kecil sembari memberikan obat yang beberapa saat lalu diraciknya dari tumbuhan dan mengoleskannya di atas luka sang Uchiha yang telah menutup pasca mendapat jahitan dari sang samurai. Erangan kecil keluar dari mulut Sasuke saat jemari samurai bertopeng mengenai lukanya.
"Bersabarlah. Sedikit sakit memang. Tapi, obat ini sangat mujarab mengobati luka tebasan pedang." Ia terus mengoleskan obat tersebut.
Tak berapa lama, obat tersebut telah dioleskan ke seluruh daerah perut Sasuke yang terkena tebasan. Sang samurai dengan yukata ungu pasi itu tersenyum. Gurat kelegaan setelah ia melihat rona Sasuke berangsur-angsur normal setelah sedari tadi wajahnya pucat berpeluh.
Pemuda beriris jamrud yang memandangi sang samurai berkuncir hanya mematung.

"Gaara." Sang profesor melambaikan tangannya, menyuruh Gaara untuk memperpendek jarak antara ia dan sang profesor.
Patuh, sang pemuda marun melangkah mendekat. Rasa penasaran terlihat dari kerutan di dahinya ketika sebuah senyuman menghiasi bibir sang profesor. "Ada apa, profesor?"
Jemari sang gadis menarik dagu Gaara untuk mendekat. Sebuah kalimat perintah yang meluncur dari mulut sang profesor tepat di telinga Gaara membuat sepasang kelereng jamrud miliknya membola.
"Aku ingin pergi ke masa lalu dan membantu Sasuke-kun dan aku ingin kau ikut, Gaara."
Perih. Itulah rasa pertama yang ada di relung hatinya tatkala sang atasan memberikannya perintah tersebut. Ia tidak pernah keberatan pergi ke masa lalu, terlebih dengan gadis yang telah membuatnya jatuh hati itu. Tidak. Ia hanya keberatan pada embel-embel di mana sang profesor ingin pergi melewati batas ruang dan waktu untuk membantu Sasuke. Ia tak dapat menampik rasa cemburu yang langsung menyeruak di hatinya.
Namun, ia tahu, ia tak akan pernah bisa membangkang dari titah sang atasan yang dicintainya. Tidak peduli seperti apa pun bentuk perintah yang diberikan kepadanya, ia akan menurutinya. Maka, meski rasanya berat, Gaara bersedia ikut ke masa lalu.
"Baiklah, profesor."
Gaara menolehkan kepalanya menghadap sang profesor dan memberikan senyumannya. Senyuman yang terulas dengan terpaksa.
"Satu hal lagi. Aku akan menyamar sebagai laki-laki di sana. Ada suatu hal yang harus kulakukan."

Perintah itulah yang kini membawanya ke sini. Berada di antara manusia masa lampau dengan segala unsur tradisional yang masih khas sekali. Ia tak punya pilihan lain selain menjalaninya. Walaupun tentu saja bukan hal yang mudah untuk beradaptasi dengan masa lalu, terlebih mengatasi kecemburuannya selama berada di sini.

Api unggun mengisi kegelapan di dalam gua setelah matahari digantikan posisinya oleh sang rembulan malam. Beberapa ikan bakar tertancap di antara kayu bakar yang ditumpuk sementara lima manusia di sana tenggelam dalam obrolan seputar peperangan.
"Tadi kalian keren sekali! Tebasan kalian bisa tepat mengenai titik kelemahan musuh!" Naruto mengemukakan pendapatnya dengan menggebu-gebu sembari memraktekkan jurus yang digunakan sang samurai yang aslinya Gaara dan profesor. Sakura bertepuk tangan riuh sementara Gaara dan sang profesor hanya mengulas setipis senyuman untuk menimpalinya.
Keriuhan yang tercipta mau tak mau membuat mimpi sang Uchiha terusik. Sebuah lenguhan terdengar darinya sebelum ia beranjak duduk dari pembaringan.
Pemilik bola mata gulita itu mengacak sedikit surainya sendiri dan sedikit meringis ketika rasa perih menjalar di area perutnya.
"Lukamu masih basah. Jadi, jangan banyak bergerak dulu. Ini! Makanlah!"
Setusuk ikan bakar disodorkan tepat di depan wajah Sasuke yang membuat ia menengadah untuk mendapati manusia yang menatapnya dari balik topeng.
"Kau!" Sasuke membelalak, diabaikannya ikan bakar yang sang bertopeng sodorkan. Ia sangat hafal dengan suara berat ini. Suara dari seseorang yang sedari pertemuan dengannya membuat Uchiha selalu melamunkan sosoknya setiap saat. "Profesor?"
Tak ketinggalan, Sasuke mendongak ke arah api unggun di mana sosok lain yang ia kenali tengah duduk bersila.
"Kau … Gaara?"
Sabaku yang dipanggil menoleh dan mengangkat sebelah tangannya.
"Kenapa kalian ada di sini?"
"Kenapa bertanya begitu? Tidak sopan! Aku dan Gaara datang untuk membantumu. Kurasa semakin banyak kawan semakin baik daripada bergerak dalam jumlah sedikit, bukan?" Sang samurai meletakkan ikan bakar itu di sisi Sasuke dan kembali melangkah ke dekat api unggun.
"Kemudian …," lanjut sang profesor sembari menghentikan gerakan kakinya. "Aku akan melatihmu ilmu pedang yang kukuasai agar kau menjadi seorang samurai yang tangguh."
Oniks menunjukkan raut terkesima. Kesekiankalinya Uchiha ditolong oleh ia yang selalu bertengger di pikirannya. Kini, orang itu bahkan akan menetap di sini, masa lampau dari masanya, untuk membantu Sasuke meski Sasuke tak menjanjikan upeti apa pun sebagai balas jasa.
"Nama … sebutkan namamu!" Sasuke berseru lantang pada siluet yang kini membalikkan tubuhnya pada sang pemuda.
"Aku Ryuu. Tsuki no Ryuu. Ingat itu Uchiha no Sasuke-kun."

"Kenapa harus menyembunyikan namamu?" Suara Gaara menyapa indera pendengaran sang samurai bertopeng yang kini tengah membasuh wajahnya di sisi sungai kala tengah malam di mana tiga orang lainnya telah terlelap.
Topeng putih yang tak pernah absen menutupi rupanya kini ia tanggalkan di atas bebatuan sungai.
"Sudah kubilang, aku harus menyamar sebagai laki-laki. Bagaimanapun, aku harus menutupi identitasku di sini."
Gaara mendekat dan ikut membasuh wajahnya dengan air sungai yang dingin. "Sayang sekali. Bukankah nama Anda begitu cantik untuk disembunyikan, Profesor Hyuuga Hinata?"
TEK!
Sang profesor yang memiliki nama asli Hyuuga Hinata itu kembali mengenakan topengnya. Ditatapnya rembulan dengan sinar gemerlap yang membuat wajahnya memantulkan cahaya benderang.
"Kau tahu Gaara? Setelah kuselidiki, tahun ini adalah tahun 1713. Tahun di mana ibuku menghilang setelah menaiki mesin waktu dan tidak pernah kembali lagi."
"Ap—"
"—Karena itulah!" Gadis itu mengepalkan tangannya. Ia menatap Gaara dari celah topengnya, menatap Gaara dengan iris lavender yang bercahaya sembari menggeram, "Aku akan menguak rahasia di balik hilangnya ibuku di sini dan aku akan mencarinya!"


                                                                         To Be Continued

Courtesy: FanFiction.Net

Sponsor

Copyright© 2012. Diberdayakan oleh Blogger.
Topics :